makalah Politik Harapan Palsu



BAB I
PENDAHULUAN

1.1             Latar belakang
Indonesia sedang gempar dengan masalah politik dari masalah tentang pejabat legislatif, eksekutif dan yudikatif. Masalah yang mereka hadapi kebanyakan tentang politik uang, haruskah indonesia menghadapi hal semacam ini. Dimanakah letak kebijaksanaan pemerintah dalam menghadapi masalah seperti ini.
Menjadi bangsa yang besar yang dihormati oleh bangsa lain dan selalu dikenang sejarah pasti berpijak pada adigum “dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat”. Adigum yang disebut konsep demokrasi itu menjadikan rakyat sebagai tolak ukur dari perjuangan panjang diranah politik. Dengan demikian, politik yang didesain atas nama rakyat pasti akan  memberikan efek positif, dimana pelayanan lebih diutamakan dan kenyataan lebih didahulukan daripada konsep semu yang membingungkan dan kepentingan rakyat berada diatas segalanya.
Tetapi dalam kenyataan sekarang, pemerintah tutup mata dan telinga atas jerit tangis rakyat yang terpasung dalam kebijakan – kebijakan kosong yang mencabik nurani rakyat itu sendiri. Janji-janji yang dulu diumbar kini tinggal kenangan dan pembicaraan yang kian meyakinkan pupus dan bertolak belakang dengan kenyataan yang ada.


1.2             Rumusan masalah
a.       Apakah kaidah politik dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat masih digunakan ?
b.      Bagaimana bisa kampanye dijadikan ajang pembodohan publik ?
c.       Mengapa penanggulangan politik menjadi dilema ?
d.      Bagaimanakah nasib pendidikan yang terkatung-katung ?


















BAB II
PEMBAHASAN

2.1       Kaidah politik dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat
Kaidah politik diartikan sebagai tatacara politik artinya politik berjalan dengan sebuah tatacara. Dan tatacara politik tidak lari dari kalimat “dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat” tetapi dalam dunia nyata kaidah politiknya diubah oleh pejabat golongan hitam menjadi “dari rakyat  bukan untuk rakyat” dari kaidah itu dalam arti sempit dicontohkan sebagai politik uang. Misalnya uang rakyat disalah gunakan sebagai kepentingan pribadi untuk memperkaya diri semata akibat perbuatan buruk mereka rakyat semakin melarat. Pejabat golongan hitam diartikan sebagai orang-orang yang menyalah gunakan amanah dari rakyat. Indonesia tidak akan maju bilamana pejabat golongan hitam semakin bertambah banyak bukan nya yang miskin menjadi sejahtera malah semakin miskin dan yang kaya semakin kaya.

2.2       Kampanye pembodohan publik
Siapa yang tidak tersipu dengan juru kampanyhe yang lihai memoles kata ? namun apa yang disampaikan selalu berbanding terbalik dengan kenyataan. Kampanye telah menjelmaa sebagai panggung sandirwara. Mereka memegang semboyan “Janji Manis”. Kampanye setiap orang menyebutnya dengan hari pesta politik dimana para caleg mengumandangkan rangkaian janji-janji kebanggaan mereka dan melontarkan seribu orasi mengatasnamakan kesejahteraan rakyat. Dan apa yang mereka lontarkan entah hanya janji atau benar adanya disuatu hari nanti jika dia terpilih. Tapi sekarang saja kenyataannya orang-orang menjadikan kampanye sebagai pembodohan publik dan ajang memperkaya diri. Setelah mereka terpilih janji tinggalah janji dan masyarakat kecewa atas perbuatan pejabat golongan hitam yang menyelewengkan amanah dari rakyat dan membohongi publik dengan janji mereka yang tidak terbukti adanya. Tidakkah pejabat-pejabat itu berpikir jika bukan karena rakyat merak tidak akan bisa duduk dikursi pemerintahan, dan janji yang mengatasnamakan kesejahteraan rakyat itu pernah menjadi semangat rakyat meraih kemajuan. Tapi kini janji itu hanya menjadi bayangan semu yang memudar.

2.3       Dilema penanggulangan kemiskinan
Kemiskinan diartikan sebagai kekurangan sumber daya yang digunakan untuk menyejahterakan sekelompok orang. Kemiskinan sudah menjadi topik utama pemerintah di Indonesia, pemerintah pun sudah pontang-panting menanganinya. Beribu usaha yang dilakukan pemerintah dari pembuatan rusun, jamkesmas, raskin, BLT dan masih banyak lagi. Tetapi banyak bantuan dari pemerintah yang disalah gunakan misalnya rusun yang dijanjikan sebagai hunian gratis masih saja dipungut biaya sedangkan fasilitas yang ada sangat tidak memadai. Dan contoh lainnya adalah BLT yang seharusnya diberikan kepada rakyat yang tidak mampu malah diberikan kepada mereka yang mampu dalam artian sangat mencukupi sedangkan mereka yang benar-benar tidak mampu malah tidak mendapatkan jatah BLT itu. Dengan contoh seperti ini sangat dipertanyakan adakah tindakan pemerintah untuk hal ini. Dan tidak heran lagi mengapa rakyat miskin semakin melarat. Pemerintah sebenarnya sudah melakukan usaha yang baik namun pemerintah kurang bijak dalam menindak lanjuti kebijakannya. Wajar saja bila rakyat miskin mempertanyakan dimana keadilan pemerintah dan mana kesejahteraan yang dijanjikan.

2.4       Nasib pendidikan yang terkatung-katung
Tidak asing lagi bagi rakyat jika mendengar orasi tentang pendidikan gratis dari mulut para caleg. Pendidikan gtaris itu hanyalah janji tanpa bukti. Adanya janji tapi tidak ditindak lanjuti sama saja dengan kebohongan publik. Pendidikan yang dijanjikan hanyalah mimpi mimpi rakyat yang selalu diabaikan itu sebabnya masih banyak anak jalanan yang putus sekolah dikarenakan tidak mampu membayar biaya sekolah yang mencekik, dan tidak heran bilamana banyak pengangguran, anak-anak yang tidak dapat mengenyam pendidikan, dan anak dibawah umur yang bekerja sebagai buruh. Bagaimana rakyat ingin maju jika nasib pendidikan mereka masih terkatung-katung dan untuk mengenyam pendidikan bagi rakyat miskin hanyalah angan dan solusi untuk semua ini masih dipertanyakan adanya.






























BAB III
PENUTUP


3.1      Kesimpulan
Kaidah politik kini hanyalah tulisan tanpa arti, sayap garuda yang dulu kokoh mulai rapuh karena helai bulunya gugur dikarenakan bangsanya mulai gugur dijajah pemerintah mereka sendiri. Janji-janji yang mengatasnamakan kesejahteraan rakyat kini tinggal kenangan. Mereka yang miskin akan sekamakin miskin dan mereka yang kaya akan semakin kaya. Kebijakan pemerintah tentang usaha kesejahteraan rakyat kini menjadi tanda tanya besak untuk pemerintah bilamana janji mereka hanyalah rayuan gombal. Ditambah lagi maraknya pejabat golongan hitam menjadi terdakwa atas kasus penyelewengan uang negara, dan oleh sebab itu kepercayaan rakyat memudar dan rakyat mulai memberontak kebijakan yang dijanjikan pemerintah.

3.2      Saran
Menjadi pemimpin berarti berhadapan dengan tugas yang Mahabesar. Tugas pada kepentingan rakyat adalah harga mati yang harus diperjuangkan bukan diumbar dengan janji-janji kosong. Menjadi pemimpin tidaklah mudah mereka muncul dari serangkaian proses seleksi, berinteraksi dengan masalah, konsisten pada tanggung jawab serta kematangan dalam mengambil keputusan karena itu, perlu kemampuan dan pengalaman yang cukup dalam menyikapi dan mengatasi persoalan. Kaidah politik jangan hanya dijadikan orasi tapi ditindak lanjuti. Biarkan garuda Indonesia melebarkan sayapnya dengan kokoh, dan biarkan indonesia menjadi negara maju dengan rakyat yang sejahtera. Dan pejabat golongan hitam dapat ditindak lanjuti, dan tidak ada pembedaan antara hukuman rakyat biasa dan pejabat. Hukum harus ditegakkan seadil-adilnya. Keberhasilan pemimpin diukur dari kemampuan mereka menyejahterakan umat. Masyarakatnya seharusnya juga ikut membantu dalam membangun negara agar mereka dapat bekerja sama demi menyejahterakan diri dan negara mereka. Pemerintah tidak akan ada artinya tanpa masyarakat begitu pula masyarakat tidak akan ada artinya tanpa pemerintah. Maka kita sebagai bangsa indonesia yang bersemboyan bhineka tunggal ika  harus menyunjung tinggi persatuan demi kemajuan bangsa kita.








Daftar Pustaka


Setiadi, Andi. 2014. POLITIK HARAPAN PALSU. Yogyakarta : IRCiSoD
Yuda, Hanta. 2014. JEJAK PARA PEMIMPIN . Jakarta : PT.Gramedia Pustaka Utama







Semoga bermanfaat :)

Komentar